Rehat edisi Februari 2012... pendidikan karakter ... lagi...?

Kamis, 9 Februari 2012 11:40:33 - oleh : Nunuk

Rehat Edisi Februari 2012 ... pendidikan karakter ... lagi ...?

 

Beberapa hari terakhir terjadi polemik yang panjang di sejumlah harian lokal dan nasional terkait dengan surat edaran dari Dirjen Dikti Kemendikbud yang mengeluarkan kebijakan tentang publikasi karya ilmiah untuk kelulusan mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 yang rencanaanya akan diberlakukan mulai Agustus 2012.

 

Inti dari dua surat edaran yang dikeluarkan tersebut, yang saya tangkap adalah bagaimana menumbuhkan budaya menulis, jujur, inovatif, kreatif di kalangan mahasiswa S-1, S-2, dan S-3. Penerbitan karya di jurnal ilmiah dimungkinkan dapat mendorong penyebaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kejujuran yang saat ini dipertanyakan pun, dapat diuji melalui pemuatan karya dalam jurnal ilmiah tersebut. Sebenarnya ini salah satu dari implementasi pendidikan karakter yang dicontohkan oleh para senior (guru yang sedang menempuh pendidikan S-1, S-2, S-3) kepada yuniornya (siswa).

 

Sering disampaikan oleh para pengambil kebijakan tentang rendahnya budaya baca tulis di lingkungan kita ( yang saya maksud disini adalah lingkungan pendidikan). Budaya menulis dan mengarang harusnya ditumbuhkan sejak masih di pendidikan dasar. Kegiatan menulis dan mengarang untuk mengasah logika mulai dari sekolah dasar sudah mulai tergantikan oleh budaya instan yang lain. Harusnya kebijakan institusi pendidikan mengarah kepada bingkai ketrampilan dan kemampuan menulis yang harus dikembangakan mulai dari pendidikan dasar sebagai pijakan menuju penulisan ilmiah. Institusi pendidikan harusnya menangkap ini sebagai sebuah peluang yang baik dalam rangka mewujudkan visi dan misi yang diemban. Keresahan ini harus ditangkap sebagai sebuah sinyal positif bagi upaya pembinaan dan pengembangan profesi bagi lingkungannya. Agaknya tajuk rencana di harian nasional hari Rabu, 8 Februari 2012 yang lalu sangatlah pas dalam rangka upaya mendorong insan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan karakter berbasis keteladanan.

 

Sebagai catatan akhir, bahwa pendidikan karakter harusnya tidak diterjemahkan sebagai sopan santun saja. Melainkan adalah membangun karakter budaya yang menumbuhkan intellectual curiosity (kepenasaranan intelektual) sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan.

 

Referensi:
- Polemik Sekitar Jurnal Ilmiah, Tajuk Rencana harian Kompas, Rabu, 8 Februari 2012 hlm 6
- Bisman Nababan, Kebijakan Dikti Berpotensi Merugikan, Opini di harian Kompas, Rabu, 8 Februari 2012 hlm. 7.
- Pendidikan Karakter untuk Membangun Karakter Bangsa, Policy Brief edisi 4 Juli 2011, Ditjen Pendidikan Dasar

 

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Arsip Berita" Lainnya